Monday, 19 October 2015

Pemuda dan Sosialisasi



PENDAHULUAN


            Pemuda merupakan seorang remaja yang masih membutuhkan seseorang yang lebih tua untuk mengarahkan ke dunia baru. Seorang pemuda merupakan harapan masa depan bagi suatu bangsa. Dalam perjalannya untuk menjadi orang yang berguna diperlukan sebuah sosialisasi yang baik dengan masyarakat sekitar dimana ia tinggal. Sosialisasi yang baik dapat menentukan karakter yang kuat pemuda di dalam hidupnya. Pada bab kali ini akan dikaji lebih dalam mengenai sosok seorang pemuda, dan sosialisasi yang dilakukannya di masyarakat.


BAB IV
PEMUDA DAN SOSIALISASI


4.1       Internalisasi Belajar dan Spesialisasi
            Masa remaja merupakan masa transisi dan secara psikologis sangat problematis, masa ini menimbulkan mereka dalam anomi akibat kontradiksi norma maupun orientasi mendua.Dalam keadaan ini sering sekali muncul keadaan yang menyimpang atau kecenderungan melakukan pelanggaran, dan kondisi ini memungkinkan mereka menjadi sasaran dari media massa.

4.1.1    Orientasi Mendua
            Orientasi ini menurut Dr. Male adalah kondisi yang bertumpu pada harapan orangtua, masyarakat, dan bangsa yang tak sesuai dengan keterikatan serta keloyalitasan terhadap teman sebaya, entah itu di lingkungan belajar (sekolah), maupun diluar sekolah. Kondisi bimbang seorang remaja menyebabkan mereka melahap semua informasi tanpa seleksi. Dengan demikian mereka adalah kelompok yang mudah dipengarungi media massa dalam bentuk apapun.
            Cara menanggulangi dan mencegah pemasukan informasi tanpa seleksi tersebut di interprestasikan oleh Enoch Markum agar orang dewasa tidak selalu menganggap setiap yout culture adalah counter culture. Remaja perlu diberikan kesempatan berkembang dan berargumentasi. Enoch berpandangan perbedaan remaja dulu dan sekarang disebabkan oleh munculnya fungsi-fungsi baru yang dulu tidak ada sehingga banyaknya pilihan menyebabkan kian kompleksnya masalah. Menurutnya terdapat dua hal untuk memecahkan masalah yang pertama dengan mengaktifkan kembali fungsi keluarga, dan dan kembali pada pendidikan agama. Kedua, menegakkan hukum akan berpengaruh besar terhadap remaja dalam proses pegukuhan dirinya.

4.1.2    Peran Media Massa
            Sekarang ini banyak pilihan media informasi, sehingga kesan permisifikasi masyarakat juga tercermin di dalamnya. Sedangkan masa remaja merupakan masa peralihan seorang anak-anak menuju kedewasaan yang ditandai dengan beberapa ciri. Pertama keinginan memenuhi dan menyatakan identitas diri, Kedua kemapuan melepas diri dari ketergantungan orangtua, dan ketiga kebutuhan memperolah akseptabilitas di tengah sesama remaja.
            Kecenderungan remaja melahap semua informasi begitu saja disebabkan oleh sudah hilangnya fungsi dari orangtua dalam menajadi penyaring informasi. Zulkarnaen Nasution menganjurkan untuk membekali remaja dengan keterampilan berinformasi yang mencakup kemampuan memilih, menemukan, menggunakan, dan mengefaluasi informasi di seoklah masing-masing untuk menanggulanginya.
            Disamping itu juga perlu dilakukan intervensi ke dalam informasi mereka secara interpersonal, bimbingan orang tua dalam mengkonsumsi media massa, serta media massa perlu untuk memegang teguh kode etik dan tanggung jawab sosial sebagai komunikator massa.

4.2       Pemuda dan Identitas
            Pemuda merupakan generasi yang dipundaknya terbebani oleh bermacam-macam harapan, terutama pada generasi lainnya. Hal ini dapat dimengerti karena pemuda diharapkan sebagai generasi penerus, generasi yang melanjutkan perjuangan generasi penerusnya sebagai pemegang tongkat estafet pembangunan. Pemuda sebagai sumber daya yang memiliki potensi besar  haruslah digarap dan dilatih dengan sungguh-sungguh sesuai melalui jalur pembinaan yang baik dan benar .
            Proses sosialisasi pemuda adalah suatu proses yang sangat menetukan kemampuan diri untuk menyelaraskan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu pada tahapan dan pembinaannya melalui proses kematangan dirinya dan belajar pada berbagai media sosialisasi yang ada di masyarakat, seorang pemuda harus mampu mengseleksi berbagai kemungkinan yang ada sehingga mampu mengendalikan diri dan tetap mempunyai motivasi sosial yang tinggi di dalam masyarakat.

4.2.1    Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda
            Pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  pada tanggal 28 oktober 1978 Nomor:0323/U/1978. Maksud dari pola pengembangan ini adalah agar semua pihak yang turutserta dan berkepentingan dalam penanganannya benar-benar menggunakan sebagai pedoman sehingga penggunaannya dapat terarah, menyeluruh, dan terpadu serta dapat mencapai sasaran dan tujuan yang dimaksud.
            Pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda disusun berlandaskan:
1.      Landasan idiil                         : Pancasila
2.      Landasan Konstitusional        : Undang Undang Dasar 1945
3.      Landasan Strategis                  : Garis-garis besar haluan negara
4.      Landasan Historis                   : Sumpah pemuda tahun 1928 dan Proklamasi        
  Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
5.      Landasan Normatif                 : Etika, tata nilai dan tradisi luhur bangsa.
Motivasi dasar pembinaan dan pembangunan generasi muda bertumpu pada pencapaian strategi pencapaian tujuan nasional, seperti yang telah terkandung dalam UUD 1945 pada  alinea IV.
Dalam hal ini pembinaan dan pengembangan generasi muda menyangkut dua pengertian pokok yaitu:
1.      Generasi muda sebagai subyek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang telah memiliki bekal dan kemampuan serta landasan untuk dapat mandiri dalam keterlibatannya secara fungsional  bersama potensi lainnya guna menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.
2.      Generasi muda sebagai objek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan ke arah pertumbuhan potensi dan kemampuan-kemampuannya ke tingkat yang optimal dan belum dapat bersikap mandiri yang melibatkan secara fungsional.
4.2.3    Masalah dan Potensi Generasi Muda
            Berbagai permasalahan generasi muda yang muncul pada saat ini diantara lain:
a.       Menurunnya jiwa idealisme, patriotisme dan nasionalisme.
b.      Kekurang pastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.
c.       Belum seimbangnya jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia.
d.      Kurannya lapangan/kesempatan kerja serta tingginya pengangguran di kalangan generasi muda.
e.       Kurangnya gizi yang menyebabkan hambatan pada pertumbuhan dan kecerdasan di generasi muda.
f.       Pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi perkawinan dan kehidupan berbangsa.
g.      Meningkatnya kenakalan remaja, termasuk kasus narkotika.
h.      Belum adanya undang-undang yang menyangkut tentang generasi muda.

Adapun potensi yang bisa dikembangkan oleh kalangan generasi muda diantaranya adalah:
a.       Idealisme dan daya kritis.
b.      Dinamika dan kreatifitas.
c.       Keberanian mengambil resiko.
d.      Optimis dan kegairahan semangat.
e.       Sikap kemandirian dan disiplin murni.
f.       Terdidik
g.      Keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan
h.      Patriotisme dan nasionalisme.
i.        Sikap kesatria
j.        Kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi.

Sosialisasi adalah proses yang membantu individu melalui belajar dan proses penyesuaian diri, bagaimana bertindak dan berfikir agar ia dapat berperan dan berfungsi baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Meskipun sosialisasi itu berbeda-beda dalam berbagai lembaga, kelompok, maupun masyarakat, namun sasaran sosialisasi tersbut memiliki banyak kesamaan. Tujuan pokok sosialisasi adalah:
a.       Individu harus diberi keterampilan/pengetahuan yang dibutuhkan kelak dalam hidup bermasyarakat.
b.      Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya.
c.       Pengendalian fungsi-fungsi organik yang diperoleh dari kemampuan mawas diri yang tepat.
d.      Bertingkah laku selaras dengan norma.

4.3       Perguruan dan Pendidikan
            Sumber daya manusia merupakan sesuatu yang penting di dalam proses pembangunan suatu bangsa. Hal ini dikarenakan manusia bukan hanya menjadi obyek dalam pembangunan, melainkan juga bertindak sebagai subjek pembangunan. Sebagai subjek setiap orang terlibat secara aktif dalam proses pembangunan, sedangkan sebagai objek maka hasil pembangunan tersebut harus bisa dinikmati oleh semua orang.
            Arti penting pendidikan sebagai terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas sebagai prasarat utama dalam pembangunan. Suatu bangsa dapat dikatakan berhasil dalam pembangunannya secara self prospering apabila telah memenuhi minimum jumlah dan mutu dalam pendidikan penduduknya. Diperlukan kebijakansanaan terarah dan terpadu di dalam menagani masalah pendidikan ini.
            Sebagai bangsa yang menetapkan Pancasila sebagai falsafah hidup dan negara Indonesia. Maka pendidikan yang dibutuhkan adalah pendidikasn dengan dasar dan tujuan menurut Pancasila. Dalam implementasinya pendidikan tersebut diarahkan menjadi pendidikan pembangunan, satu pendidikan yang akan membina ketahanan hidup bangsa, baik secara fisik maupun secara ideologis dan mental. Dengan pendidikan tersebut diharapkan bangsa Indonesia dapat melepaskan diri dari belenggu kemiskinan dan keterbelakangan.

4.4       Kesimpulan
            Pemuda merupakan harapan dan ujung tombak suatu bangsa di masa depan yang meneruskan perjuangan bangsanya. Tugas pemuda sebenarnya saat ini lebih mudah dibandingkan dengan saat zaman sebelum dan saat perang kemerdekaan. Pemuda sekarang lebih bebas menekspresikan bakat yang ada tanpa dikekang tidak seperti zaman kolonial yang serba ketidak bolehan. Pemuda Indonesia di zaman ini seharusnya lebih mempunyai nilai lebih dalam memakmurkan bangsanya, namun sekali lagi fakta membuktikan bahwa masih banyak sekali pemuda kita yang tidak bisa mengekspresikan dan mengejar cita-citanya. Faktor tersebut mungkin dikarenakan oleh kurangnya semangat yang timbul dari generasi pemuda tersebut akan masa depan bangsa ini. Faktor lain adalah globalisasi dengan masuknya unsur budaya dan informasi dari luar yang tak terbendung yang mengakibatkan bingungnya seorang pemuda dalam menyikapinya.
            Persoalan dalam menyikapi sebuah informasi adalah dengan memberi sebuah sosialisasi yang baik dimana sosialisasi itu dimulai dari keluarga. Keluarga merupakan sebuah alat dalam memilah-milah mana informasi/sesuatu hal yang baik dan buruk. Setelah tumbuh dalam keluarga yang baik seorang remaja akan tahu bagaimana sosialisasi yang benar dengan lingkungan luar/pertemanannya sehingga diharapkan mampu membawa dirinya sendiri tanpa campur tangan orangtua.
            Pendidikan yang tinggi merupakan hal yang terpenting yang harus didapatkan seorang generasi muda. Pendidikan merupakan sebuah anugerah yang bisa menghantarkan suatu bangsa maju lewat generasi mudanya. Permasalahan pendidikan tidak lepas akan kemahalannya, di Indonesia sendiri masih banyak orang yang berpendidikan kurang dikarenakan ketidak becusan pemerintah dalam menekan harga pendidikan. Pendidikan sekarang memang sudah wajib 9 tahun dan difasilitasi oleh pemerintah, tetapi dalam perjalanannya harga-harga penunjang atau fasilitas pendidikan sangat mahal dan kurang memadai sehingga membuat generasi yang bersekolah selalu tertinggal dari anak di negara lainnya. Generasi muda yang berpendidikan tinggi saat ini masih jarang menjadi tugas pemerintah dalam menselaraskan agar semua rakyat Indonesia mendapatkannya dan menjadi tantangan juga bagi orang-orang yang berpendidikan tinggi tersebut dalam membantu pemerintah untuk menuangkan idenya untuk mencerdaskan dan mensejahterakan kehidupan bangsa Indonesia yang kita cinta ini.


Sumber: http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mkdu_isd/bab4-pemuda_dan_sosialisasi.pdf

No comments:

Post a Comment