Friday, 25 December 2015

Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan



PENDAHULUAN


Penduduk suatu negara dapat dikategorikan atas penduduk desa dan penduduk perkotaan. Pada dasarnya penduduk kota adalah penduduk desa yang sudah maju dalam kehidupannya. Baik penduduk desa dan kota mempunyai tatanan sosial  di dalam kehidupan sehari-harinya. Penduduk desa merupakan penduduk yang masih kuat rasa gotong royongnya dan lebih mementingkan kepentingan bersama. Hal tersebut sanagat berbeda dengan penduduk kota yang rata-rata lebih individualis dikarenakan hanya mengejar kepentingan pribadi. Terlepas dari semua itu baik penduduk kota ataupun desa mempunyai sisi buruk dan sisi baik dalam kehidupan sosial bermasyarakatnya untuk lebih jelasnya akan dipaparkan di dalam penulisan ini.


BAB VII
Masyarakat Pedesaan & Masyarakat Perkotaan


7.1       Masyarakat Perkotaan        
Secara umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan.
Terdapat beberapa pendapat dari parah ahli mengenai masyarakat perkotaan ini, diantaranya adalah sebagai berikut:
·         Wirth
Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.
·         Max Weber
Kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.


·         Dwigth Sanderson
Kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih.

7.2       Hubungan Desa dan Kota
            Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.
Salah satu bentuk hubungan antara kota dan desa adalah :
·         Urbanisasi dan Urbanisme
Dengan adanya hubungan Masyarakat Desa dan Kota yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah masalah baru yakni ; Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan. (soekanto,1969:123 ).

Sebab-sebab Urbanisasi
·         Faktor-faktor yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah kediamannya (Push factors)
·         Faktor-faktor yang ada dikota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap dikota (pull factors)

Terdapat pula faktor lainnya yaitu :
·         Bertambahnya penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian,
·         Terdesaknya kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern.
·         Penduduk desa, terutama kaum muda, merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu cara hidup yang monoton.
·         Didesa tidak banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan.
·         Kegagalan panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang. Sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.


Hal – hal yang termasuk pull factor antara lain :
·         Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa dikota banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan
·         Dikota lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.
·         Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat.
·         Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur manusianya.
·         Kota memberi kesempatan untuk menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau untuk mengangkat diri dari posisi sosial yang rendah ( Soekanti, 1969 : 124-125 ).

7.3       Aspek Positif dan Negatif
Berikut aspek positif dari perkotaan:
·         Perkotaan dapat memberikan pekerjaan bagi tenaga kerja kasar dari desa yg bekerja di proyek pembangunan gedung dikota.
·         Perkotaan dapat memenuhi kebutuhan penduduk dengan fasilitas seperti wahana rekreasi, mall, dan hiburan lainnya.
·         Tersedianya pembangkit tenaga listrik buat penerangn dan kebutuhan lainya.
·         Fasilitas pendidikan dan perguruan tinggi yang bagus-bagus dan sudah terakreditasi.
·         Tersedia lapangan kerja.
·         Perkotaan juga devisa buat negara.

Aspek negatif dari perkotaan:
·         Terjadinya transmigrasi besar-besaran oleh orang desa ke kota yg menyebabkan kepadatan penduduk.
·         Sehingga adanya pembangunan liar rumah-rumah dan pengangguran karena sedikitnya orang desar yg diterima bekerja.
·         Tingkat kriminalitas tinggi karena banyaknya pengangguran dan mereka terpaksa untuk melakukan kejahatan untuk memenuhi kebutuhan.
·         Pembangunan dipedesaan menjadi terlambat karena orang-orang desa pada kekota untuk mencari pekerjaan.

7.4       Masyarakat Pedesaan
            Secara umum masyarakat desa sering diartikan sebagai masyarakat tradisional dari masyarakat primitif (sederhana). Namun pandangan tersebut sebetulnya kurang tepat, karena masyarakat desa adalah masyarakat yang tinggal di suatu kawasan, wilayah, teritorial tertentu yang disebut desa. Sedangkan masyarakat tradisional adalah masyarakat yang penguasaan ipteknya rendah sehingga hidupnya masih sederhana dan belum kompleks. Memang tidak dapat dipungkiri masyarakat desa dinegara sedang berkembang seperti Indonesia, ukurannya terdapat pada masyarakat desa yaitu bersifat tradisional dan hidupnya masih sederhana, karena desa-desa di Indonesia pada umumnya jauh dari pengaruh budaya asing/luar yang dapat mempengaruhi perubahan-perubahan pola hidupnya.

Adapun ciri-ciri masyarakat desa antara lain :
·         Anggota komunitas kecil
·          Hubungan antar individu bersifat kekeluargaan
·         Sistem kepemimpinan informal
·         Ketergantungan terhadap alam tinggi
·         Religius magis artinya sangat baik menjaga lingkungan dan menjaga jarak dengan penciptanya, cara yang ditempuh antara lain melaksanakan ritus pada masa-masa yang dianggap penting misalnya saat kelahiran, khitanan, kematian dan syukuran pada masa panen, bersih desa.
·         Rasa solidaritas dan gotong royong tinggi
·         Kontrol sosial antara warga kuat
·         Hubungan antara pemimpin dengan warganya bersifat informal
·         Pembagian kerja tidak tegas, karena belum terjadi spesialisasi pekerjaan
·         Patuh terhadap nilai-nilai dan norma yang berlaku di desanya (tradisi)
·         Tingkat mobilitas sosialnya rendah
·         Penghidupan utama adalah petani.

7.5       Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
            Dalam lingkungan satu dengan lainnya dalam bermasyarakat tentu saja mempuyai sebuah perbedaan, perbedaan antara masyarakat pedesaan dan perkotaan ada di dalam beberapa aspek diantarana adalah sebagai berikut:
1.      Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam, Masyarakat pedesaan berhubungan kuat dengan alam, karena lokasi geografisnya di daerah desa. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan dan hukum alam. Berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota yang kehidupannya “bebas” dari realitas alam.
2.      Pekerjaan atau Mata Pencaharian, Pada umumnya mata pencaharian di daerah pedesaan adalah bertani tapi tak sedikit juga yang bermata pencaharian berdagang, sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha.
3.      Ukuran Komunitas, Komunitas pedesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan.
4.      Kepadatan Penduduk, Penduduk desa kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan degan kepadatan penduduk kota, kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan degan klasifikasi dari kota itu sendiri.
5.      Homogenitas dan Heterogenitas, Homogenitas atau persamaan ciri-ciri sosial dan psikologis, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat dan perilaku nampak pada masyarakat pedesaan bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Di kota sebaliknya penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang degan macam-macam perilaku dan juga bahasa, penduduk di kota lebih heterogen.
6.      Diferensiasi Sosial, Keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yg tinggi di dlm diferensiasi Sosial.
7.      Pelapisan Sosial, Kelas sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam bentuk “piramida terbalik” yaitu kelas-kelas yang tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.

7.6              Kesimpulan
Masyarakat merupakan kumpulan dari beberapa orang yang hidup bersama dan membentuk sebuah kebudayaan. Pada dasarnya semua masyarakat berasal dari desa saja. Masyarakat perkotaan berasal dari perpindahan penduduk desa berpindah secara berangsur sehingga membentuk masyarakat kota. Perpindahan penduduk desa ke kota kebanyakan terjadi karena faktor menginginkan penghidupan yang lebih layak seperti ekonomi, pendidikan yang tinggi dll.
Baik desa maupun kota saling membutuhkan antara keduanya, masyarakat membutuhkan bahan makanan dari penduduk desa yang rata-rata bertani dan berternak. Sedangkan penduduk desa membutuhkan masyarakat kota untuk membeli hasil bumi untuk mengharapkan hasil berupa uang untuk penghidupannya. Hubungan saling ketergantungan tersebut terbentuk secara alami dan akan berulang secara terus-menerus

 Sumber: 
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mkdu_isd/bab7-masyarakat_pedesaan_dan_masyarakat_perkotaan.pdf
http://suci_k.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/14978/masyarakat-pekotaan-dan-masyarakat-pedesaan(7).pdf
 
 


Friday, 11 December 2015

Pelapisan Sosial & Kesamaan Derajat



PENDAHULUAN


Pelapisan sosial merupakan suatu individu atau kelompok dalam masyarakat yang menempatkan seseorang pada kelas-kelas sosial sosial yang membeda-bedakan satu sama lain. Pelapisan sosial bisa terbentuk atas dasar dari kesamaan ras, suku, dan kesamaan derajat. Dalam perjalanannya kehidupan sosial yang membeda-bedakan ini mempunyai dampak positif dan negatifnya. Makna positif yang dapat diambil atas pelapisan sosial dan kesamaan derajat adalah sebagai motivasi masyarakat untuk mencapai status sosial yang di inginkannya.
Dampak positifnya adalah dalam mencapai kedudukan tersebut seseorang takutnya akan berbuat apa saja dengan tidak mempedulikan lingkungan disekitarnya yang dianggapnya tidak setingkat dengannya. Hal tersebut membuat nilai-nilai kebersamaan di dalam masyarakat berkurang, dan menyebabkan sebuah perpecahan. Maka dari itu saya sebagai penulis ingin memberikan materi Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat dalam penulisan kali ini untuk lebih mem.ahami dampak baik dan buruknya bagi kehidupan bermasyarakat.


BAB VI
PELAPISAN SOSIAL & KESAMAAN DERAJAT

6.1       Pelapisan Sosial
6.1.1    Pengertian Pelapisan Sosial
            Pelapisan sosial dan kesamaan derajat merupakan hal yang tak dapat terpisahkan. Pelapisan sosial merupakan sebuah pemisah antara golongan secara umum dari tingkat ekonominyya seperti golongan orang kaya dan orang miskin atau dalam agama seperti pembagian kasta pada ajaran hinduisme. Kesamaan derajat merupakan suatu persamaan antara sesame yaitu tidak adanya pembeda antara golongan-golongan tertentu.

6.1.2    Proses Terjadinya Pelapisan Sosial
            Berdasarkan proses terjadinya, pelapisan sosial dibagi menjadi dua proses yaitu:
a.       Terjadi dengan sendiri
Pada cara ini, pelapisan sosial terjadi secara alamiah atau tanpa kesengajaan. Hal ini akan membentuk pelapisan sosial yang bervariasi menurut tempat, waktu, dan kebudayaan. Kedudukan seseorang pada pelapisan sosial ini juga terjadi secara otomatis.
b.      Terjadi dengan sengaja
Proses ini terjadi atas dasar kesepakatan yang telah dibuat untuk kepentingan bersama-sama antar masyarakat. Dalam sistem ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya kewenangan dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang.

6.1.3    Perbedaan Sistem Pelapisan Dalam Masyarakat
            Masyarakat terdiri dari berbagai latar belakang dan pelapisan sosial yang berbeda-beda. Pelapisan sosial merupakan pemilah-milah kelompok sosial berdasarkan status, strata dan kemampuan individu tersebut yang terjadisecara alami didalam masyarakat. Terjadinya pelapisan sosial berdasarkan adanya cara pandang masyarakat yang berbeda-beda dengan dilatarbelakangi oleh status sosial, strata sosial dan kemampuan ekonomi yang berbeda-beda. Adapun perbedaan sistem pelapisan dalam masyarakat :
·         Sistem pelapisan masyarakat yang tertutup
·         Sistem pelapisan masyarakat yang terbuka

6.1.4    Teori-teori Pelapisan Sosial
            Terdapat beberapa pemikiran-pemikiran para ahli mengenai adanya sebuah pelapisan sosial di dalam masyarakat yang diantaranya adalah sebagai berikut.
Gaotano Mosoa menyatakan bahwa di dalam seluruh masyarakat dari masyarakat yang sangat kurang berkembang, samppai kepada masyarakat yang paling maju dan penuh kekuasaan dua kelas selalu muncul ialah kelas yang pemerintah dan kelas yang diperintah. Kelas yang pertama jumlahnya selalu sedikit, menjalankan perananan politik, monopoli kekuasaan dan menikmati keuntungan-keuntungan yang dihasilkan oleh kekuasaannya itu. Sedangkan untuk kelas yang kedua jumlahnya lebih banyak, diarahkan dan diatur/diawasi oleh kelas yang pertama.
Vilfredo Pareto menyatakan bahwa ada dua kelas senantiasa berbeda setiap waktu yaitu golongan elite dan non-elite. Menurutnya pangkal dari perbedaan itu karena ada orang-orang yang memiliki kecakapan, watak, keahlian dan kapasitas yang berbeda-beda.
Karl Marx menjelaskan ada dua macam di setiap masyarakat yaitu kelas yang memiliki tanah dan alat-alat produksi lainnya dan kelas yang tidak mempunyai dan hanya memiliki tenaga untuk disumbangkan di dalam proses produksi.
Aristoteles mengatakan bahwa di dalam tiap-tiap negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat sekali, dan mereka yang berada di tengah-tengahnya. Aristoteles membagi masyrakat berdasarkan dimensi ekonomi sehingga ada orang yang kaya, menengah dan melarat.
Prof. Dr. Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi SH. MA. menyatakan : selama di dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai olehnya dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargainya maka barang itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat.

6.2       Kesamaan Sosial
6.2.1    Pengertian Kesamaan Sosial / Derajat
          Kesamaan derajat adalah suatu sifat yang menghubungkan antara manusia dengan lingkungan masyarakat umumnya timbal balik, maksudnya orang sebagai anggota masyarakat memiliki hak dan kewajiban, baik terhadap masyarakat maupun terhadap pemerintah dan Negara. Hak dan kewajiban sangat penting ditetapkan dalam perundang-undangan atau Konstitusi. Undang-undang itu berlaku bagi semua orang tanpa terkecuali dalam arti semua orang memiliki kesamaan derajat. Kesamaan derajat ini terwujud dalam jaminan hak yang diberikan dalam berbagai faktor kehidupan.

6.2.2    Peraturan Pemerintah Dalam Persamaan Hak
            Peraturan pemerintah Indonesia dalam persamaan hak telah diatur dan dimuat secara jelas di dalam pasal-pasal yang ada yang didasari oleh UUD 1945. UUD 1945 mengatakan bahwa seluruh rakyat Indonesia berhak mendapatkan perlakuan yang sama. Adapun pasal-pasal yang mengatur mengenai persamaan hak adalah sebagai berikut.
Pasal 27 ayat (1) UUD 1945
Setiap warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada pengecualiannya.

Pasal 28D ayat (1) UUD 1945
Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.

Pasal 28I ayat (2) UUD 1945
Setiap orang berhak bebas dari perlakuan diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapat perlindungan dari perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.

6.3       Elite dan Massa
6.3.1    Pengertian Elite
          Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Januari 2015) Elitee dapat diartikan sebagai orang-orang terbaik atau pilihan dalam suatu kelompok atau kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi (kaum bangsawan, cendekiawan, dan sebagainya).
Elite adalah suatu minoritas pribadi-pribadi yang diangkat untuk melayani suatu kolektivitas dengan cara yang bernilai sosial. Golongan elite sebagai minoritas sering ditampakkan dengan beberapa bentuk penampilan antara lain :
·         Elite menduduki posisi yang penting dan cenderung merupakan poros kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
·         Faktor utama yang menentukan kedudukan mereka adalah keunggulan dan keberhasilan yang dilandasi oleh kemampuan baik yang bersifat fisik maupun psikhis, material maupun immaterial, merupakan heriditer maupun pencapaian.
·         Dalam hal tanggung jawab, mereka memiliki tanggung jawab yang lebih besar jika dibandingkan dengan masyarakat lain.
·         Ciri-Ciri lain yang merupakan konsekuensi logis dari ketiga hal di atas adalah imbalan yang lebih besar yang diperoleh atas pekerjaan dan usahanya.

6.3.2    Pengertian Massa
            Secara umum massa diartikan sebagai orang yang tidak saling mengenal, berjumlah banyak, anggotanya heterogen, berkumpul di suatu tempat dan tidak individualistis. Massa memiliki kesadaran diri yang rendah, tidak dapat bergerak dengan terorganisir, tidak bertindak untuk dirinya sendiri melainkan terdapat “dalang” di belakangnya yang berfungsi memanipulasi individu yang berkaitan.  Massa mempunyai ciri yang tersendiri, berdasarkan cirri tersebut adalah sebagai berikut.
·         Keanggotaannya berasal dari semua lapisan masyarakat atau strata sosial, meliputi orang-orang dari berbagai posisi kelas yang berbeda, dari jabatan kecakapan, tingkat kemakamuran atau kebudayaan yang berbeda-beda.
·         Massa merupakan kelompok yang anonim, atau lebih tepat, tersusun dari individu-individu yang anonim.
·         Sedikit sekali interaksi atau bertukar pengalaman antara anggota­ anggotanya.
·         Tidak dapat bertindak secara bulat.

6.4       Kesimpulan
            Pelapisan sosial merupakan cara masyarakat dalam mencirikan kelompok-kelompoknya. Pelapisan sosial muncul dan tumbuh di dalam masyarakat itu sendiri, pelapisan sosial ada yang didasarkan karena kelompok strata ekonomi tinggi, tingkat intelektualitas, kesamaan ras, agama dsb.  Lebih jelasnya pelapisan sosial telah di kemukakan tokoh-tokoh seperti Aristoteles yang mengemukakan 3 bagian lapisan sosial berdasarkan ekonomi yaitu kelas atas, menengah, dan kelas bawah atau ekonomi rendah.
            Elite merupakan beberapa/kecil masyarakat yang mengendalikan massa. Kelompok elite erat kaitannya dengan massa. Kelompok elite di dalam kehidupan sehari-hari bisa dibilang seperti cendikiawan dan para pemimpin pemerintahan yang mengendalikan suatu masyarakat banyak atau massa agar lebih tertata.

Sumber:
 Ahmadi Abu, Drs. H . Ilmu Sosial Dasar : Mata Kuliah Dasar Umum. 2003. Penerbit : Rineka Cipta.