Thursday, 13 November 2014

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN


A.   MANUSIA
Manusia adalah mahluk yang berpengaruh di dunia ini. Banyak sekali pengertian manusia yang dibahas/dirumuskan dalam berbagai ilmu pengetahuan seperti di dalam eksakta, dan ilmu sosial antara lain:
Dalam Kimia: Manusia dipandang sebagai kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia,
Dalam Fisika: manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energi
Dalam Biologi: manusia merupakan makhluk biologis yang tergolong dalam golongan makhluk mamalia
Dalam Ekonomi: manusia merupakan makhluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering disebut homo economicus
Dalam Sosiologi : manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri
Dalam Ilmu Politik : Manusia adalah makhluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan
Dalam Filsafat Manusia adalah Makhluk yang berbudaya, sering disebut homo-humanus, dan masih banyak filsafat-filsafat yang menjelaskan tentang manusia.

Terdapat dua pandangan/acuan yang bisa dijadikan untuk menjelaskan tentang unsur-unsur yang membangun manusia.
1.       Manusia terdiri atas 4 unsur, yaitu :

a.       Jasad : adalah badan kasar manusia yang nampak pada luarnya, dapat diraba, difoto dan menempati ruang dan waktu.
b.      Hayat : adalah sesuatu yang mengandung unsur hidup, yang ditandai dengan gerak.
c.       Ruh : adalah bimbingan dan pimpinan Tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang besifat konseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan.
d.      Nafas : adalah diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri.
     
2.      Manusia sebagai satu kepribadian terdiri atas 3 unsur, yaitu :

a.       Id: yang merupakan struktur kepribadian yang paling primitif dan paling tidak nampak.
b.      Ego: merupakan bagian atas struktur keribadian yang pertama kali dibedakan dari Id, seringkali disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial yanng dapat dimengerti oleh orang lain.
c.       Superego: merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira-kira pada usia lima tahun.

B.   HAKEKAT MANUSIA

a.       Makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri atas tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh .

Tubuh adalah materi yang dapat dilihat, diraba, dirasa, wujudnya konkrit tetapi tidak abadi. Jika manusia itu meninggal, tubuhnya akan hancur dan lenyap. Jiwa terdapat didalam tubuh, tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba, sifatnya abstrak tetapi abadi. Jika manusia meninggal, jiwa lepas dari tubuh dan kembali ke asalnya yaitu Tuhan.

b.      Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibanding dengan makhluk lainnya.

Kesempurnaan terletak pada adab dan budayanya, karena manusia dilengkapi oleh sang pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa dengan akal, perasaan, dan kehendak yang terdapat di dalam diri, dan jiwa manusia. Dengan akal (ratio) manusia mampu menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Daya rasa (perasaan) dalam diri manusia itu ada dua macam, yaitu perasaan inderawi dan perasaan rohani. Perasaan inderawi adalah rangsangan jasmani melalui pancaindra, tingkatnya rendah dan terdapat pada manusia atau binatang. Perasaan rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia diantaranya :
1.      Perasaan intelektual    : adalah perasaan yang berkenaan dengan pengetahuan.
2.      Perasaan estetis           : adalah perasaan yang berkenaan dengan keindahan.
3.      Perasaan diri                : adalah perasaan yang berkenaan dengan kebaikan.
4.      Perasaan sosial            : adalah perasaan yang berkenaan dengan kelompok atau korp atau hidup bermasyarakat, ikut merasakan kehidupan orang lain.
5.      Perasaan diri                : adalah perasaan yang berkenaan dengan harga diri karena ada kelebihan dari yang lan.

c.       Makhluk biokultural, yaitu makhluk hayati yang budayawi

Manusia merupakan produk dari tindakan, atau interaksi faktor faktor hayati dan budayawi. Sebagai makhluk hayati, manusia dapat dipelajari dari segi anatomi, fisiologi atau psikiologi. Sebagai makhluk budayawi dapat dipelajari dari segi kemasyarakatan, kekerabatan dan psikologi sosial.

C. PENGERTIAN KEBUDAYAAN

Menurut Melville J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan Cultural Determinism yaitu segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu. Herkovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang superorganic karena kebudayaan yang turun temurun dari generasi ke genarasi hidup terus. Walaupun orang-orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti disebabkan kematian dan kelahiran. Pengertian kebudayaan meliputi bidang yang luasnya seolah-olah tidak ada batasnya. Dengan demikian sukar sekali untuk mendapatkan pembatasan pengertian atau definisi yang tegas dan terinci yang mencakup segala sesuatu yang seharusnya termasuk dalam pengertian tersebut. Dalam pengertian sehari-hari istilah kebudayaan sering diartikan sama dengan kesenian, terutama seni suara dan seni tari.
Secara bahasa sansekerta kebudayaan berasal dari kata budhaya yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa latin, kebudayaan berasal dari kata colere, yang berarti mengolah tanah. Sehingga kebudayaan secara keseluruhan budaya dapat diartikan sebagai “segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi/pikiran manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat tinggalnya, atau dapat pula diartikan segala usaha manusia untuk dapat melangsungkan dan mempertahankan hidupnya di dalam lingkungannya”. Budaya diartikan juga sebagai himpunan pengalaman yang dipelajari, yang mengacu pada pola-pola perilaku yang ditularkan secara sosial, yang merupakan kekhususan dalam kelompok sosial tertentu. Dengan demikian budaya mencakup segala aspek kehidupan manusia, baik yang bersifat materi, dan non materi.

D. UNSUR – UNSUR KEBUDAYAAN

Unsur yang dimaksud adalah makna totalitas dari pada sekedar penjumlahan unsur-unsur yang terdapat didalamnya. Kebudayaan setiap bangsa, atau masyarakat terdiri atas unsur-unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat kesatuan. Misalnya dalam kebudayaan indonesia dapat dijumpai unsur besar seperti umpamanya Majelis Permusyarawaratan Rakyat disamping unsur-unsur kecil seperti sisir, baju, kancing, peniti dan lainnya yang di jual di pinggir jalan.
C.Kluckhohn di dalam karyanya yang berjudul Universal Categories of Culture mengemukakan, bahwa terdapat 7 unsur kebudayaan universal, diantaranya adalah :
a.       Sistem Religi (sistem kepercayaan)
b.      Sistem Organisasi Kemasyarakatan
c.       Sistem Pengetahuan
d.      Sistem Mata Pencaharian Hidup dan Sistem-sistem Ekonomi
e.       Sistem Teknologi dan Peralatan
f.       Bahasa
g.      Kesenian

E. WUJUD KEBUDAYAAN

Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai 3 wujud yaitu :

1.      Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia :
      Wujud ini disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya, atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan hidup.

2.      Kompleks aktivitas :
Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau diobservasi. Wujud ini sering disebut sistem sosial.

3.      Wujud sebagai benda :
Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya.

F. ORIENTASI NILAI BUDAYA

Kebudayaan sebagai karya manusia memiliki sistem nilai. Secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :

1.      Hakekat Hidup Manusia (MH)
Hakekat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstern; ada yang berusaha untuk memadamkan hidup, ada pula yang dengan pola-pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik,”mengisi hidup”

2.      Hakekat Karya Manusia (MK)
Setiap kebudayaan hakekatnya berbeda-beda, diantaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi.

3.      Hakekat Waktu Manusia (WM)
Hakekat waktu untuk setiap kebudayaan yang berbeda; ada yang berpandangan mementingan orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan untuk masa kini atau masa yang akan datang.

4.      Hakekat alam manusia (MA)
Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudayaan yang beranggapan manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.

5.      Hakekat hubungan manusia (MN)
Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal/sesamanya maupun secara vertikal/orientasi terhadap tokoh-tokoh. Ada pula yang berpandangan individualis/menilai tinggi kekuasaan sendiri.

G. KAITAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan.

Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :

1.      Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui eksternalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia.

2.       Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia

3.       Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang di bentuk oleh masyarakat .

Manusia dan kebudayaan, atau manusia dan masyarakat, oleh memiliki hubungan yang erat satu sama lain. Sehingga sulit untuk membedakannya yang mana yang lebih awal terbentuk antara manusia atau kebudayaan. Masih diperlukan kajian-kajian yang lebih khusus lagi yang mencakup ruang, dan waktu untuk lebih tetap lagi dalan memahami diantara keduanya.

Sumber : Nugroho, Wahyu; ILMU BUDAYA DASAR; Gunadarama, JAKARTA, 1994.

No comments:

Post a Comment